Hari Ini: Jam: | BAPPEDA PAPUA | BPS PAPUA

Swot

November 30, -0001 00:00:00 Posted by

Salah satu tahapan dalam proses manajemen adalah menyusun faktor penentu keberhasilan yang diawali dengan mengkaji lingkungan strategis yang meliputi kondisi dan pengaruh pengaruh yang berasal dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) Kabupaten Pegunungan Bintang. Lingkungan internal dan eksternal mempunyai dampak pada kehidupan dan kinerja seluruh komponen yang terlibat pada pembangunan, mencakup kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan tantangan eksternal.
Analisis lingkungan srategis adalah menyusun asumsi-asumsi strategis dan mengujinya dengan visi dan misi organisasi untuk memperoleh faktor penentu keberhasilan.

4.1. ANALISIS LINGKUNGAN STRATERGIS
Pelaksanaan analisis lingkungan strategis merupakan bagian dari komponen perencanaan strategis dan merupakan suatu proses untuk selalu menempatkan organisasi pada posisi yang menguntungkan Lingkup anallisis lingkungan strategis meliputi Analisis Lingkungan Internal dan Analisis Lingkunngan Eksternal.

4.1.1. Analisis Lingkungan Internal 
1. Kekuatan
1) Ditetapkannya Pegunungan Bintang sebagai kawasan strategis perbatasan negara dalam RTRW Provinsi Papua maupun RTRW Nasional;
2) Posisi Kab. Pegunungan Bintang di wilayah Perbatasan Negara antara PNG dengan NKRI menyebabkan tingginya interaksi perekonomian, sosial, pendidikan dan kesehatan;
3) Pemerintah memiliki komitmen yang tinggi untuk memajukan pendidikan terutama di Distrik yang berbatasan dengan negara Papua New Guinea bagi peningkatan kualitas sumberdaya manusia;
4) Tersedianya potensi sumberdaya alam yang besar di sektor kehutanan (kayu, rotan), perkebunan (kopi, kakao, buah merah, kelapa dalam, vanili, sagu, anggrek), wisata budaya (asal usul penyebaran manusia), wisata alam (salju abadi), pertanian (padi, ubi jalar, ubi kayu, keladi, perikanan budidaya air tawar, sayur mayur dan buah-buahan, peternakan babi, sapi dan unggas), Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pertambangan (emas, tembaga, nikel, uranium, minyak bumi) sebagai modal dasar pembangunan;
5) Ditetapkannya Pegunungan Bintang sebagai kawasan lindung yang memberikan sumber kehidupan sebagai pemasok sumber air bagi 3 sungai (S. Digoel/Oksop, S. Memberamo/Okbi, S. Sifik/Oktasin) besar di Provinsi Papua;
6) Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, budaya gotong royong serta mudah menerima perubahan; 
7) Keharmonisan antar umat beragama, antar kelompok masyarakat serta antara pemerintah dan masyarakat yang baik serta terjaganya stabilitas keamanan dan ketertiban;
8) Komitmen pemerintah yang kuat untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance);
9) Hubungan yang harmonis antara eksekutif dengan legislatif dalam melaksanakan program pembangunan;
10) Posisi geostrategis Kab. Pegunungan Bintang yang terletak diantara pusat pertumbuhan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Merauke dengan Jayapura maupun Negara tetangga PNG;

2. Kelemahan
1) Rendahnya pembinaan terhadap nilai-nilai luhur dan budaya lokal;
2) Rendahnya kualitas sumberdaya masyarakat;
3) Rendahnya kualitas dan kuantitas sumberdaya aparatur;
4) Rendahnya jiwa kewirausahaan masyarakat;
5) Rendahnya daya saing sumberdaya manusia;
6) Penyebaran penduduk yang terpencar, tidak merata dan terisolir;
7) Lemahnya data dan informasi kependudukan;
8) Rendahnya kualitas dan kuantitas pelayanan pemerintah terhadap masyarakat;
9) Rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur perhubungan (darat dan udara) yang menghubungkan antar distrik;
10) Lemahnya jaringan distribusi pemasaran hasil produksi masyarakat menuju pasar;
11) Sumber-sumber penerimaan daerah yang belum terkelola secara optimal;
12) Daya tarik investasi yang masih rendah;
13) Rendahnya daya saing tenaga kerja lokal karena keterbatasan keahlian dan keterampilan;
14) Kurangnya penyuluhan dan pendampingan terhadap sektor ekonomi produktif;
15) Rendahnya posisi tawar produk-produk hasil pertanian antara lain ubi jalar, padi, keladi, sagu, hortikultura, perikanan budidaya; perkebunan antara lain kopi, kelapa dalam, kakao, buah merah, vanili dan kehutanan  antara lain kayu gaharu, masohi, rotan;
16) Kepemilikan lahan hak ulayat yang masih belum tertata;
17) Ketergantungan terhadap sumber pendanaan Pemerintah yang tinggi;
18) Belum efektifnya tata kerja dan penerapan good and clean governance;
19) Masih lemahnya kesejahteraan pegawai dan kurangnya sarana prasarana pendukung pemerintahan;
20) Lemahnya koordinasi dan integrasi program pembangunan baik lintas sektor maupun lintas wilayah.

4.1.2. Analisis Lingkungan Eksternal 
1. Peluang
1) Komitmen Pemerintah untuk peningkatan perekonomian nasional di wilayah Papua dan Papua Barat melalui penetapan kawasan strategis Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) sebagai pusat agribisnis yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada koridor Maluku dan Papua;
2) Terbukanya kerjasama antara kabupaten tetangga Yahukimo, Keerom dan Boven Digoel;
3) Komitmen Pemerintah Pusat untuk mengentaskan Kabupaten Tertinggal termasuk Pegunungan Bintang melalui pembangunan jalan Trans Papua, pembangunan daerah tertinggal dan perbatasan negara;
4) Komitmen dunia internasional terhadap Pegunungan Bintang sebagai penyumbang carbon trade yang berasal dari menjaga kelestarian hutan;
5) Besarnya dari Pemerintah (DAU, DAK, Dana Perbantuan, Dana Otonomi Khusus dll);
6) Terbukanya peluang pasar internasional untuk mengekspor sumberdaya alam dari Pegunungan Bintang;
7) Tingginya minat investor masuk ke Kabupaten Pegunungan Bintang yang memiliki potensi SDA yang;
8) Terbukanya peluang pengembangan agribisnis;
9) Terbukanya peluang kerjasama antar Pemerintah dengan LSM, Perguruan Tinggi maupun swasta.

2. Ancaman 
1) Belum ditetapkannya peraturan pelaksanaan Undang-undang Otonomi Khusus;
2) Belum tertatanya batas wilayah antar kabupaten dan rencana pemekaran kabupaten;
3) Terjadinya illegal logging;
4) Kebijakan di Pusat yang menghambat pembangunan daerah;
5) Pengaruh sosial globalisasi ekonomi dan informasi yang dapat memudarkan nilai-nilai kearifan lokal;
6) Terdapat beberapa lokasi rawan bencana banjir dan tanah longsor.


4.2. ANALISIS  STRATEGI  PILIHAN
Pada dasarnya strategi adalah kegiatan, mekanisme, atau sistem untuk mengantisipasi secara menyeluruh dan meramalkan pencapaian tujuan ke depan melalui pendekatan rasional. Strategi ini disusun dengan memadukan antara kekuatan (Strength - S) dengan peluang (Opportunity - O) yang dikenal dengan strategi S-O, memadukan kelemahan (Weakness - W) dengan peluang  (Opportunity - O) yang dikenal dengan strategi W-O, dan memadukan kekuatan (Strength - S) dengan ancaman (Treath - T) yang dikenal dengan strategi S-T. Strategi S-O dimaksud sebagai upaya memaksimalkan setiap unsur kekuatan yang dimiliki untuk mencapai atau merebut setiap unsur peluang yang ada seoptimal mungkin, strategi W-O dimaksudkan sebagai upaya memperbaiki masing-masing unsur kelemahan agar dapat memanfaatkan seoptimal mungkin setiap unsur peluang yang ada. Sedangkan strategi S-T dimaksudkan sebagai upaya untuk memaksimalkan setiap unsur kekuatan untuk menangkal dan menundukkan setiap unsur tantangan seoptimal mungkin. Dengan cara demikian akan diperoleh berbagai strategi pilihan yang merupakan hasil perpaduan antarunsur kekuatan, kelemahan, peluang. Masing-masing strategi pilihan tersebut harus diuji kembali relevansi dan kekuatan relasinya dengan visi, misi, dan nilai nilai organisasi pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang . 
 

Kekuatan (S)

Peluang (O)

Strategi (S-O)

1

Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, budaya gotong royong serta mudah menerima perubahan

1

Komitmen Pemerintah Pusat untuk mengentaskan Kabupaten Tertinggal termasuk Pegunungan Bintang

1

Pengembangan daerah tertinggal dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal

2

 

Keharmonisan antar umat beragama, antar kelompok masyarakat serta antara pemerintah dan masyarakat yang baik

2

Terbukanya peluang pasar internasional untuk mengekspor sumberdaya alam Pegunungan Bintang

2

Peningkatan investasi dengan yang didukung oleh iklim investasi yang kondusif

3

Tersedianya potensi sumberdaya alam yang besar di sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, pertambangan dan pariwisata

3

Komitmen dunia internasional terhadap Pegunungan Bintang sebagai penyumbang carbon trade yang berasal dari menjaga kelestarian hutan

3

Peningkatan kompensasi kepada Kab. Pegunungan Bintang sebagai daerah yang menyumbang carbon bagi pengelolaan potensi sumberdaya alam

 

4

Komitmen yang kuat dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia;

 

4

Komitmen Pemerintah untuk peningkatan perekonomian di wilayah Papua dan Papua Barat

4

Percepatan pembangunan ekonomi yang didukung oleh pengembangan sumberdaya manusia

5

Ditetapkannya Pegunungan Bintang sebagai kawasan lindung yang menyediakan sumber air bagi 3 sungai besar;

5

Komitmen Pemerintah Pusat untuk membangun Papua dan Papua Barat melalui Kebijakan Otonomi Khusus;

5

Peningkatan pertanian tanaman pangan di Kab. Pegunungan Bintang sebagai pemasok bahan pangan

6

Ditetapkannya Pegunungan Bintang sebagai wilayah kawasan lindung

6

Besarnya bantuan anggaran dari Pemerintah Pusat & Provinsi (DAU, DAK, Dana Perbantuan, Dana Otonomi Khusus dll)

7

Pengembangan industri berbasis sumberdaya alam

7

Komitmen pemerintah yang kuat untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance);

7

Tingginya minat investor masuk ke Kabupaten Pegunungan Bintang yang memiliki potensi SDA

7

Peningkatan kualitas pelayanan publik dalam rangka peningkatan investasi

8

Hubungan yang harmonis antara eksekutif dengan legislatif dalam melaksanakan program pembangunan;

8

Terbukanya peluang kerjasama antar Pemerintah Daerah, LSM, Perguruan Tinggi maupun swasta;

8

Pengembangan kerjasama antara seluruh pelaku pembangunan

9

Posisi geostrategis yang terletak diantara pusat pertumbuhan MIFEE, Jayapura dan PNG;

9

Komitmen dunia internasional terhadap Pegunungan Bintang sebagai penyumbang carbon dunia

9

Peningkatan potensi dengan mengutamakan posisi geostrategis wilayah Pegunungan Bintang diantara Merauke, Jayapura dan PNG

10

Terjaganya stabilitas keamanan dan ketertiban;

10

Terbukanya peluang pengembangan agribisnis;

10

Pengembangan potensi sumberdaya alam melalui stabilitas keamanan dan iklim investasi yang kondusif

 

 

11

Pertambangan di wilayah Teluk Bintuni membuka peluang perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Pegunungan Bintang;

11

Pengembangan pertambangan

 

 

 

12

Komitmen pemerintah untuk mengatasi keterisolasian wilayah melalui pengembangan jaringan jalan Trans Papua

12

Pengembangan jaringan Trans Papua

 
4.2.2. Strategi antara Kelemahan dan Peluang (W-O)
 

Kelemahan (W)

Peluang (O)

Strategi (W-O)

1

Mulai lunturnya nilai-nilai budaya dan kearifan lokal akibat pengaruh globalisasi;

1

Komitmen Pemerintah Pusat untuk mengentaskan Kabupaten Tertinggal termasuk Pegunungan Bintang

1

Pengembangan daerah tertinggal dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal di era globalisasi

2

 

Kepemilikan lahan hak ulayat yang masih belum tertata;

 

2

Terbukanya peluang pasar internasional untuk mengekspor sumberdaya alam Pegunungan Bintang

2

Peningkatan investasi melalui pemetaan hak ulayat

3

Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang rendah;

 

3

Komitmen dunia internasional terhadap Pegunungan Bintang sebagai penyumbang carbon trade yang berasal dari menjaga kelestarian hutan

3

Peningkatan pengetahuan kepada masyarakat terhadap arti pentingnya pengelolaan lingkungan

4

Rendahnya posisi tawar produk-produk hasil pertanian masyarakat  (perkebunan pala, kopra, kakao)

Penggunaan dan penguasaan teknologi tepat guna yang masih rendah;

4

Komitmen Pemerintah untuk peningkatan perekonomian di wilayah Papua dan Papua Barat

4

Percepatan pembangunan ekonomi yang didukung oleh pengembangan sumberdaya manusia dan teknologi

5

Rendahnya kualitas dan kuantitas sumberdaya aparatur;

 

 

5

Komitmen Pemerintah Pusat untuk membangun Papua dan Papua Barat melalui Kebijakan Otonomi Khusus;

5

Peningkatan pelayanan publik melalui peningkatan kualitas sumberdaya aparatur bagi percepatan pembangunan masyarakat Papua

6

Sumber-sumber penerimaan daerah yang belum terkelola secara optimal;

Ketergantungan terhadap sumber pendanaan Pemerintah yang tinggi;

6

Besarnya bantuan anggaran dari Pemerintah Pusat & Provinsi (DAU, DAK, Dana Perbantuan, Dana Otonomi Khusus dll)

7

Peningkatan penerimaan daerah dan intensifikasi sumber-sumber penerimaan daerah

7

Rendahnya kualitas sumberdaya masyarakat;

Rendahnya daya saing tenaga kerja lokal karena keterbatasan keahlian dan keterampilan;

7

Tingginya minat investor masuk ke Kabupaten Pegunungan Bintang yang memiliki potensi SDA;

 

7

Peningkatan kualitas tenaga kerja bagi pengembangan daya saing investasi

8

Lemahnya pengawasan terhadap tata niaga barang dan jasa;

 

8

Komitmen dunia internasional terhadap Pegunungan Bintang sebagai penyumbang carbon dunia

8

Pengembangan industri jasa kehutanan

9

Rendahnya jiwa kewirausahaan masyarakat;

 

9

Terbukanya peluang kerjasama antar Pemerintah Daerah, LSM, Perguruan Tinggi maupun swasta;

9

Peningkatan potensi dengan mengutamakan posisi geostrategis wilayah Merauke, Jayapura, PNG

10

Kurangnya penyuluhan dan pendampingan terhadap sektor ekonomi produktif;

 

10

Terbukanya peluang pengembangan agribisnis;

10

Pengembangan potensi sumberdaya alam melalui stabilitas keamanan dan iklim investasi yang kondusif

11

Daya tarik investor yang masih rendah;

 

11

Pengembangan MIFEE  membuka peluang perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Pegunungan Bintang;

11

Pengembangan pertambangan

12

Lemahnya jaringan distribusi pemasaran hasil produksi masyarakat menuju pasar;

12

Komitmen pemerintah untuk mengatasi keterisolasian wilayah melalui pengembangan jaringan jalan Trans Papua

12

Pengembangan jaringan pemasaran melalui pengembangan jaringan Trans Papua

13

Ketersediaan data yang akurat dan mutakhir masih rendah;

13

Pembentukan Provinsi Papua Barat memperpendek rentang kendali pelayanan pemerintahan;

13

Pengembangan data dan informasi bagi peningkatan kualitas kinerja aparatur

 
4.2.3. Strategi antara Kekuatan dan Ancaman (S-T)
 

Kekuatan (S)

Ancaman (t)

Strategi (S-T)

1

Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, budaya gotong royong serta mudah menerima perubahan;

Keharmonisan antar umat beragama, antar kelompok masyarakat serta antara pemerintah dan masyarakat yang baik

1

Pengaruh sosial globalisasi ekonomi dan informasi yang dapat memudarkan nilai-nilai kearifan lokal;

1

Penguatan kembali nilai-nilai kearifan lokal akibat pengaruh globalisasi

2

 

Komitmen pemerintah yang kuat untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance);

2

Belum ditetapkannya peraturan pelaksanaan Undang-undang Otonomi Khusus;

Belum tertatanya batas wilayah antar provinsi dan antar kabupaten;

Ketidakkonsistenan kebijakan di Pusat yang merugikan daerah

2

Percepatan penetapan peraturan pendukung bagi penciptaan tata kelola pemerintahan yang baik

3

Tersedianya potensi sumberdaya alam yang besar di sektor pertanian, kehutanan, perkebunan, pertambangan dan pariwisata

3

Terjadinya illegal fishing dan illegal looging;

 

3

Pengembangan potensi unggulan pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan dan pariwisata

 

 

 

 

 

 

 
4.3. MODAL DASAR PEMBANGUNAN
 
Perencanaan dan implementasi pembangunan daerah di Kabupaten Pegunungan Bintang  lima tahun mendatang diharapkan mampu berkembang guna meningkatkan taraf hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Nilai-nilai strategis digunakan sebagai modal dasar pembangunan di kabupaten ini antara lain : (1) posisi geostrategis wilayah, (2) SDM yang unggul, berdaya saing dan mudah menerima perubahan, (3) ketersediaan lahan yang subur dan luas.  

4.3.1. Posisi Geostrategis Wilayah
Letak geografis Kabupaten Pegunungan Bintang, yang dalam perspektif regional berada pada posisi “strategis”, karena berada pada jalur lintas darat Trans Papua yang menghubungkan jalur jalan seluruh propinsi di Papua. Demikian pula jalur laut untuk bagian utara, merupakan daerah perlintasan (transit) sekaligus stop over arus penumpang, barang dan jasa bagi Jayapura menuju kawasan pegunungan tengah. Sementara untuk jalur laut bagian selatan, sangat strategis untuk pengembangan produksi pertanian di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel. Posisi demikian menguntungkan Pegunungan Bintang sebab secara geografis akan menjadi jalur transit perdagangan dan jasa di Provinsi Papua, bahkan secara regional dan nasional. 
Predikat sebagai jalur transit itu ditopang oleh adanya rencana pengembangan jaringan jalan di pegunungan tengah. Saat ini, semua pihak harus mengantisipasi perkembangan dan manfaat positif era Perdagangan Bebas di Kawasan Asean (Asean Free Trade Area-AFTA), Kawasan Perdagangan Bebas Amerika Utara (North American Free Trade Area-NAFTA), APEC, serta pertumbuhan ekonomi global yang memanfaatkan fasilitas yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang. 
Keunggulan posisi strategis dengan didukung sejumlah fasilitas penunjang yang ada, harus dipersiapkan dan dikelola secara optimal agar posisi geostrategis tersebut dapat menjadi salah satu faktor utama guna mendorong pertumbuhan ekonomi termasuk perdagangan, pariwisata, jasa, industri dan bidang lain di Pegunungan Bintang  khususnya, dan bahkan di Indonesia pada umumnya.
Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang bertekad untuk mengembangkan kualitas sumberdaya manusia melalui peningkatan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan berbasis asrama pada tingkat dasar, menengah, dan kejuruan sesuai dengan kondisi daerah terutama di Distrik Batom yang berbatasan dengan Negara Papua New Guinea.

4.3.2. Nilai-nilai Luhur Budaya Masyarakat 
Kondisi masyarakat Kabupaten Pegunungan Bintang hingga saat ini masih mempertahankan nilai-nilai luhur yang religius, berakhlak mulia, gotong royong, toleransi, bermartabat, beretika, rukun, aman, dan damai bagi terciptanya suasana kehidupan masyarakat yang penuh toleransi, tenggang rasa, dan harmonis sehingga nilai-nilai kearifan lokal akan mampu merespon modernisasi secara positif dan produktif.
Upaya yang terus dilakukan dengan memantapkan dan terus meningkatkan peran institusi agama dan institusi sosial kemasyarakatan secara intensif dan simultan sebagai upaya untuk meningkatkan penghayatan ajaran agama guna mewujudkan iman yang berkualitas dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber inspirasi untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kehidupan bersama dalam dimensi kemajemukan serta budaya lainnya sebagai modal sosial (social capital) yang kontributif bagi pembangunan daerah. 
Masyarakat di wilayah ini juga pada umumnya memiliki budaya keterbukaan, dalam arti mudah berinteraksi dengan beragam budaya yang masuk dan relatif cepat menerima transformasi positif dari luar. Hal ini menjadi modal dasar dalam pelaksanaan pembangunan untuk mencapai kemajuan di berbagai bidang dengan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan dalam upaya mewujudkan kemandirian daerah serta mempercepat proses peningkatan taraf hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Aspek positif lain dari karakter sosial masyarakat di wilayah ini adalah optimisme yang tinggi dan keterbukaan untuk menerima gagasan baru dari masyarakat pendatang, serta keinginan yang kuat untuk maju. Karakter sosial yang positif ini dapat menjadi modal besar bagi masyarakat untuk memajukan daerah ini.     

4.3.3. Potensi Sumber Daya Alam  yang besar 
Berdasarkan potensi ketersediaan sumberdaya alam yang kaya di Kabupaten Pegunungan Bintang dengan unggulannya berupa pertanian, perkebunan, perikanan budidaya, pertambangan, kehutanan dan jasa lingkungan serta pariwisata. Salah satu kendala pengembangan pembangunan tersebut adalah rendahnya daya tarik kawasan terhadap investasi sehingga proses pengembangan nilai tambah komoditi ungulan di kawasan tersebut tidak dapat berlangsung secara optimal ditambah lagi dengan masalah pertanahan (hak ulayat). Potensi unggulan tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dengan mengacu pada kondisi perekonomian nasional dan fenomena ekonomi global.
Dalam lima tahun ke depan persaingan investasi dan persaingan antardaerah akan semakin tinggi, oleh karena masing-masing daerah berupaya menambah lapangan kerja dan mengurangi penduduk miskin melalui masuknya investasi, sehingga persaingan merebut peluang investasi antar daerah sangat ketat. Sehubungan dengan itu setiap daerah berupaya secara maksimal untuk melakukan promosi potensi daerah dan menciptakan iklim yang kondusif untuk masuknya investasi. 
 

Tags:


A- A A+